Friday, November 29, 2019

ISLAM DI KUDUS (ABAD 16 - 19 M)


ISLAM DI KUDUS ( abad 16 - 19 M )  ; ANTARA PERSPEKTIF BELANDA DAN HIKAYAT RAKYAT. 

Oleh:  Makhin Ahmad

Sejarah Kudus berangkat dari hijrahnya Sunan Kudus ke daerah Tajug yang berada di kawasan Pulau Muria. Dalam buku "The Islamic State of Java", Th. Pigeaud dan D.J. De Graf pernah menulis bahwa pasca hijrah ke pulau muria, Sunan Kudus berhasil membangun kota keagamaan yang hari ini bernama Kudus. Menurut tradisi lisan, kawasan tsb berada di sebelah barat sungai Gelis.  Istilah "Kota keagamaan" yang dipakai oleh D.J. De Graf ini-lah yang tentunya sangat menarik untuk kita dalami.

Dua sejarawan gaek di atas tidak menjelaskan gambaran yang rinci tentang kota islam yang baru ini. Dia hanya menulis bahwa kota di kawasan pulau Muria itu, seperti kota Pati, Jepara dan Juwana, adalah kota kecil dibanding Demak yang banyak ditumbuhi pohon-pohon jati. Kawasan pulau Muria pada abad 16 umun-nya menjadi pemasok beras ke kawasan Demak. Sebagaimana diketahui, Demak saat itu adalah kota terpenting di Jawa dan dihuni tak kurang dari 7 ribu orang.

Tome Pires di dalam bukunya "Suma Oriental" juga tidak banyak memberi informasi tentang islam di Kudus. Agen Portugis yang datang ke Jawa pada paruh pertama abad 15 M itu justru malah banyak berbicara tentang Jepara, Demak, Pati, atau Cajongan (Juwana). Hal ini bisa dimaklumi karena Kudus saat itu belum ada. Kudus sendiri baru berdiri sesudah kedatangan Pires, yakni pada tahun 1549 M. (Hitungan berdasarkan prasasti Menara).

Meski demikian, Tome Pires sempat menyebut lokasi Kudus berada, yakni kawasa gunung Muria. Ia juga menulis tentang adanya selat yang memisahkan Demak dengan kepulaun Muria, yang katanya bisa dilalui kapal-kapal besar hingga ke daerah Rembang. Apa yang disampaikan Pires ini, agaknya bisa diperkuat dengan cerita rakyat desa Jepang - Mejobo. Menurut tradisi lisan daerah tsb dulunya adalah rawa-rawa. Arya Jipang yang diyakini sebagai cikal bakal daerah tsb, dulu sempat menambatkan perahunya di daerah tsb saat hendak menemui Sunan Kudus. 

Sebelumnya Tome Pires juga telah menggambarkan kondisi sosial pesisir utara jawa secara umum. Menurutnya, di Pesisir utara Jawa saat itu banyak terdapat pedagang asing dari Arab, Persia, Gujarat, dan Cina. Apa yang disampaikan Tome Pires ini, jika kita tarik lebih jauh sebenarnya punya akar sejarah yang kuat. Apalagi secara geografis, laut Jawa saat itu merupakan jalur sutra perdagangan internasional. Wajar bila kemudian banyak pedagang asing di sepanjang pesisir tsb, terlebih pasca jatuhnya Malaka ke tangan VOC yang membuat para pedagang harus mencari lahan baru.

Tome Pires tidak menggambarkan secara rinci tentang kondisi islam di pesisir utara pada masa itu. Namun ia bilang bahwa orang asing itu, selain berdagang juga berdakwah dan membangun masjid. Pertanyaan kita : Apa nama masjid tsb dan ada di daerah mana ? Tidak ada informasi yang jelas. Hanya menurut tradisi lisan,  terdapat sebuah masjid di Demak yang usianya lebih tua dibanding masjid agung yang dibangun Wali songo. Konon, masjid ini dibangun oleh saudagar Palembang. Laporan ini kalau bisa dipastikan kebenarannya, agaknya akan sesuai dengan apa yang disampaikan oleh utusan Portugis tsb.

Berbicara soal sejarah berdirinya kota Kudus tentu tidak bisa dilepaskan dengan peristiwa hijrah-nya Sunan Kudus dari Demak ke kepulauan Muria. Peristiwa ini-lah yang kemudian tercatat oleh sumber-sumber Belanda, dan dianggap menjadi titik awal lahirnya kota "keagamaan" yang baru sebagai pecahan dari Demak. Pasca hijrah tidak saya temukan catatan rinci tentang kehidupan Sunan Kudus ini. Sumber-sumber yang ada justru lebih sering menyoroti kiprah beliau saat masih aktif di Demak.

Sedikit laporan yang bersumber dari Babad Tanah Jawi menyebutkan bahwa Sunan Kudus membawa murid-muridnya saat hijrah ke kepulauan Muria. Tak ada catatan siapa murid yang dimaksud itu. Namun diriwayatkan beberapa nama orang yang pernah belajar kepada beliau, seperti Aryo Penangsang (Adipati Jipang), Sunan Prawoto (Raja Demak pasca Trenggono), dan Ratu Kalinyamat. Di dalam tradisi lisan masyarakat Dema'an juga disebut bahwa Pangeran Puger pernah berguru kepada beliau. 

Terlepas dari pro-kontra di atas, yang jelas agama islam pada saat itu (abad 15) sudah menyebar ke berbagai pelosok kaki gunung Muria. Dalam artian bahwa islam tidak hanya dianut oleh penduduk sekitar Menara saja -- sebagai pusat islam Kudus saat itu -- tapi juga telah dianut di berbagai kawasan lain. Beberapa hikayat rakyat, adanya makam-makam tua dan temuan arkeologis mengindikasikan tepri ini. Apalagi saat itu banyak delegasi kerajaan Demak lainnya yang telah menyebarkan islam di berbagai penjuru pulau Muria.

Sekitar tahun 2010 pernah ditemukan beberapa makam tua di daerah Loram (kecamatan Jati) yang diperkirakan berasal dari abad 15 M. Posisi makam yang menghadap ke barat, memberi indikasi kuat bahwa itu adalah makam islam. Hal ini jelas memberi informasi adanya pemeluk islam di kawasan tsb sejak zaman dulu. Apalagi pernah ada laporan serupa yang seingat saya pernah didasarkan pada penelitian Agus Sunyoto.

Beberapa simbol islam, khususnya masjid yang dibangun pada abad 16 setidaknya juga masih eksis sampai hari ini. Sejarawan belanda seperti De Graff, Pigeaud dan Denys Lombard pernah menyebut masjid Al-Manar atau Al-Aqsha. Berdasarkan prasasti yang ada, masjid ini memang selesai dibangun pada masa Sunan Kudus. Yakni tahun 1549 M. Sejauh penelusuran saya, hanya masjid ini-lah yang disebut para sejarawan belanda itu. Hal ini seolah mengindikasikan bahwa islam di Kudus saat itu hanya ada di daerah Menara saja. Padahal tidak demikian.

Dalam tradisi lisan masyarakat misalnya, saat itu juga sudah ada beberapa masjid di Kudus. Diantaranya masjid Madureksan di sebelah selatan masjid Menara. Masjid ini bahkan dianggap lebih tua dari masjid menara. Di bagian timur, tepatnya di daerah Jepang - Mejobo terdapat masjid wali yang oleh masyarakat diyakini dibangun pada periode ini. Di daerah Loram - Jati juga terdapat masjid Wali yang didirikan pada abad 16 ini. Dalam tradisi lisan masyarakat, Sunan Kudus menjadi pelopor berdirinya masjid ini. Sementara di daerah Jekulo, juga ada masjid yang kini bernama Baitus Salam. Dalam catatan para Kyai sepuh setempat, nama Sunan Kudus juga disebut sebagai salah satu pelopor pendirian masjid ini.

Apalagi jika kita membicarakan fakta menarik tentang jaringan makam-makam tua di Kudus. Yang biasanya mereka ini berafiliasi ke Sunan Kudus, Sunan Muria atau bahkan diantaranya ke Demak. Baik dalam hubungan guru murid, prajurit perang, atau abdi dalem. Berdasarkan tradisi lisan yang ada, jaringan itu terutama jaringan guru - murid, menggambarkan sebuah teori yang menarik, bahwa dakwah kedua Sunan tsb -- kemungkinan juga Sunan lainnya -- merupakan sebuah program yang telah disusun sistematis. Dalam artian para Sunan tsb tidak sendirian di dalam mengemban misi dakwah tsb, melainkan juga mengerahkan para muridnya yang dikirim ke berbagai daerah.

Sebut saja Sunan Muria. Dalam hikayat rakyat, ia mengirim murid-muridnya ke berbagai desa. Seperti Mbah Jaelani ke daerah Garung - Kaliwungu. Atau Mbah Abdul Jalil ke ke daerah Jekulo yang juga berafiliasi ke Demak sebagai salah satu panglima perang.  Atau misalnya Pangeran Poncowati yang di makamkan di belakang masjid Menara. Dugaan di atas semakin kuat bila kita menengok tradisi lisan masyarakat Loram yang percaya bahwa penyebar islam di kawasan tsb adalah sultan Hadirin yang diutus oleh Sunan Kudus secara langsung.

Berbicara peran orang-orang cina di Kudus, lagi-lagi berdasarkan tradisi lisan, kita juga akan mendapati jaringan cina muslim di Kudus dan secara umum di pesisir utara Jawa. Pada abad 16 M ini, secara umum sumber-sumber belanda juga pernah menyebut komunitas Cina di pesisir utara. Di Kudus sendiri, tercatat nama-nama cina yang berjasa menyebarkan islam. Sebut saja Sunan Telingsing ( guru Sunan Kudus) dan ayahnya, Sun Ging An. Tokoh terkait -- terlepas benar adanya -- adalah penyebar islam di Kudus sebelum kedatangan Sunan Kudus. Namun sayangnya, tidak ada dokumen tertulis yang menjelaskan sosok ini. Sumber lisan hanya menyebut ia berafiliasi kepada Ceng-Ho.

Anak buah Ceng-Ho ini -- dalam tradisi lisan -- juga terlacak jejaknya di kawasan Loram - Jati. Sultan Hadirin yang oleh masyarakat setempat pernah menyebarkan islam di kawasan tsb, kabarnya ditemani seorang keturunan Cina bernama Tji Wie Gwan. Menurut masyarakat, tokoh cina terkait selain ikut menyebarkan islam, juga membuat gapura masjid yang bisa kita lihat sampai sekarang. Tokoh cina juga terlacak di daerah Ngembal rejo. Orang tsb bernama Cong-He, dan sekarang namanya dijadikan nama desa daerah tsb. Namun sekali lagi, kami tidak bisa memverifikasi kebenaran cerita-cerita tsb.

Pada abad 17 M atau era kepemerintahan Mataram, lagi-lagi tidak ada catatan rinci tentang Kudus yang bisa kita tampilkan. Secara politis, juga tidak ada laporan tentang jejak siapa penerus pemerintahan. Sumber belanda menulis, bahwa penerus Sunan Kudus ketiga melarikan diri ke jawa timur. Hal ini dipicu karena persoalan politik. Lagi-lagi tidak diketahui kemana ia lari, namun kemungkinan ke Madura.

Berdasarkan sumber lisan, pada abad 17 ini, terdapat pendakwah asal Madura di kawasan Padurenan - Gebog. Tokoh tsb bernama Raden Syarif dan diyakini merupakan putera dari adipati Sumenep, Pangeran Yudonegoro. Tidak jelas kapan ia datang ke Kudus. Sumber lisan hanya menyebuy bahwa ia selalu berpindah-pindah tempat dalam berdakwah. Dia bahkan juga pernah berdakwah di Mayong - Jepara. Sementara di kawasan Ngembal Rejo kabarnya juga terdapat tokoh agama bernama Ki Kalamudin.  (Sementara orang keliru menyebut beliau sebagai nama lain dari Mbah Abdur Rohim. Ulama' ngembal yang hidup abad 18 M, keturunan Sunan Tegal Arum).

Pada abad 18 M sepanjang penelusuran saya tidak ada catatan rinci tentang kondisi islam di Kudus. Hanya ada beberapa nama tokoh agama yang biografinya tidak banyak terdeteksi. Salah satunya "Ketib Anom Kudus" yang disebut dalam Serat Cebolek sebagai penentang Syekh Mutamakkin ( Kajen - Pati). Dalam serat tsb, Ketib Anom diceritakan bahwa Sang Ketib menentang habis-habisan ajaran Mbah Mutamakkin yang dianggap tidak benar. Konflik antara keduanya bahkan sampai ke telinga keraton Surakarta. Namun sekali lagi, biografi tentang "Ketib Anom" tsb tidak kami dapatkan. Hanya yang jelas, berangkat dari gelarnya. Sosok tsb adalah Ulama Kudus yang menjabat posisi keagamaan di keraton (Surakarta).

Sekitar akhir abad 18, kami merlacak beberapa nama Ulama Kudus di manuskrip-manuskrip kuno. Salah satunya manuskrip terjemahan "Fathul Muin" berbahasa jawa milik perpustakaan pesantren Al-Yasir, disebut secara jelas penulisnya bernama Tuan Haji Ismail Kudus. Kemudian ada keterangan bahwa penulis pengamal tarekat Khalwatiyah - Samman, tarekat yang dipopulerkan oleh Abdus Shamad al-Palimbani dan duo banjar, Arsyad al-Banjari dan Nafis al-Banjari.

Dari data terbatas yang ada tsb, ada dugaan kecil jaringan Sammaniyah pernah ada di Kudus ini. Setidaknya pada akhir atau awal abad 19 M. Yang lebih membuat penasaran, di manuskrip satunya yang juga bersumber dari Kudus, penulis manuskrip secara lebih jelas mengaku memperoleh pelajaran tajwid al-Quran dari "Maulana Arsyad bin Abdullah". Sayangnya tidak ada imbuhan gelar "Al-Banjari" setelah nama tsb, sehingga tidak bisa diyakini bahwa tokoh yang dimaksud adalah pembawa tarekat Samman ke Indonesia.

Namun berdasarkan isi manuskrip yang berbahasa melayu khas banjar, saya menduga kuat tokoh terkait adalah Syekh Arsyad al-Banjari. Ditambah lagi fakta adanya Tuan Haji Ismail yang merupakan pengamal tarekat khas Syekh Arsyad, tentu ini juga memperkuat dugaan adanya jaringan murid Syekh Arsyad al-Banjari, atau paling tidak jaringan tarekat Samman di Jawa khususnya Kudus. Hipotesis yang kami tampilkan ini, sekali pun perlu kajian mendalam lagi, tapi setidaknya memberi harapan terhadap rekonstruksi sisi-sisi sejarah islam Kudus yang lama terkubur.

Kondisi islam di Kudus terbaca secara lebih utuh baru  pada abad 19 M. Pada periode ini, secara struktural pusat pemerintahan Kudus sudah dipindahkan ke kawasan sebelah timur sungai Gelis. Kawasan ini kemudian banyak dihuni oleh orang-orang Cina dan pendatang dari luar. Secara kondisi keagamaan, Kudus abad 19 M juga sudah terdapat banyak pengajian dan Kyai. Pada periode ini, sejauh penelusuran saya memang belum ada pesantren atau madrasah di Kudus. Tapi tidak berarti kegiatan keagamaan juga tidak ada.

Dama catatan kami tentang Ulama-Ulama Kudus apada abad 18 ini juga banyak nama Ulama yang hari ini sudah tidak terdengar lagi. ada nama-nama seperti Kyai Asnawi Sepuh (Cucu Mbah Mutamakkin), Kyai Abdullah Sajjad (pendiri Muawanatul Muslimin), Kyai Imam Haramain (kakek Mbah Arwani), Kyai Abdullah Faqih, Kyai Raden Syarbini (Piji Dawe), Sayid Ali (gebog), Kyai Abdul Jalil, Kyai Moh Imam, Kyai Kamal Damaran, Kyai Mufid Sunggingan, Kyai Nurhadi, Kyai Asnawi Kudus, Kyai (mbah) Sanusi Jekulo, Kyai Ya'qub Gili, Kyai Abdur Rahim (Ngembal rejo), Kyai Yasir (Jekulo), Kyai Fakhrur Rozi, Kyai Shaleh Asnawi ( putra Kyai Asnawi sepuh) dan banyak tokoh lain.  Tokoh terakhir ini kemudian menjadi salah satu guru dari Kyai Shaleh Ndarat (semarang).

Pada abad 19 ini juga banyak orang-orang Kudus yang meneruskan study ilmu agama di Mekkah. Seperti umumnya tradisi Mekah, Orang-orang Jawa yang tinggal di sana biasanya diberi nama akhiran kota asalnya. Maka orang-orang Kudus pun demikian. Seperti Ali Kudus (ayah Syekh Abdul Hamid), Hamid Mannan Kudus, Utsman Kudus, dan beberapa nama lain.

Pada periode ini tercatat ada keluarga dari Yaman yang hijrah ke Kudus. Namanya Abdul Qadir. Tidak jelas di mana tepatnya keluarga itu tinggal. Di Kudus itu lahir-lah putra laki-laki yang bernama Ali.  Keluarga mereka akhirnya hijrah ke Mekah, dan Ali kecil mulai belajar agama di sini. Kelak Ali ini menjadi Ulama besar di Mekah yang mengarang banyak kitab keagamaan. Diantaranya kitab Kifayatul Mubtadi yang membahas persoalan akidah.

Sosok lain asal Kudus yang tinggal di Mekah adalah Haji Hamid Mannan. Kami tidak mendapati sumber utuh mengenai sosok ini. Namun dalam catatat sejarah Raden Asnawi, tokoh yang kita bicarakan ini membangun rumah tinggal di Mekah. Dan di situ-lah, Kyai Raden Asnawi tinggal selama menuntut ilmu.   Haji Hamid  tercatat juga punya relasi dengan mufti Mesir saat itu, Sayid Bik al-Husaeni. Dia-lah yang mempertemukan Kyai Raden Asnawi dengan sang mufti tsb.

Sosok lain yang belajar di Mekah pada era ini adalah Utsman bin Abdullah Kudus. Dugaan saya sosok ini adalah murid dari Syekh Nawawi banten. Namun lagi-lagi biografinya tidak terlacak. Sementara ini saya hanya menemukan keterangan bahwa tokoh terkait adalah penulis naskah kitab Mabadi' al-'Asyrah (10 prinsip keilmuan) karya Sekh Nawawi banten. Naskah tsb tersimpan di perpustakaan King Abdul Aziz dan selesai ditulis oleh tokoh tsb pada tahun 1322 H. Karya Syekh Nawawi ini -- sejauh penelusuran saya -- juga belum pernah terbit.

RUHANA KUDDUS


Koto Gadang adalah sebuah nagari (setingkat desa) di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Nagari ini terkenal sebagai penghasil kerajinan perak dan melahirkan banyak tokoh-tokoh tingkat nasional bahkan internasional, seperti Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Soetan Sjahrir, Haji Agus Salim, Jenderal Rais Abin, Rohana Kudus, dan banyak tokoh lainnya.

Telisik tentang Ruhana Kuddus adalah tokoh dari Sumatera Barat adalah wartawan perempuan. Pada 1911, Ruhana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Ia juga aktif menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia.

Ketika medianya dibredel pemerintah Belanda, Ruhana berinisiatif mendirikan surat kabar, bernama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Ruhana lahir di Kota Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Roehana adalah kakak tiri dari Sutan Sjahrir, bibi penyair Chairil Anwar, dan sepupu H Agus Salim.

Nama Ruhana Kuddus mulai dikenanag lagi sejak Jum’at (8/11/2019), secara resmi dianugerahi pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara

Jurnalis perempuan pertama di Indonesia itu ditetapkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan putuskan pertemuan antara Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan dengan Presiden Joko Widodo, Rabu (6/11/2019). Sebagai wartawati, Ruhana Kuddus merupakan orang pertama yang melahirkan surat kabar perempuan. Surat kabar Soenting Melajoe yang didirikan Ruhana pertama kali terbit pada 10 Juli 1912.

Nama asli Rohana Kudus adalah Siti Roehana kemudian menikah berubah menjadi Roehana Koeddoes. Dia lahir dari keluarga terpandang di daerah tersebut. Rohana berasal dari keluarga terpelajar, ayahnya bernama Mohammad Rasjad dengan gelar Maharadja Soetan, ayahnya ini mendapat pendidikan zalam kolonial Belanda dan meniti karir sebagai pegawai kejaksaan pemerintah Hindia Belanda yang ditugaskan dibanyak tempat di Sumatera Barat. Sementara ibu Rohana adalah Kiam yang berasal dari pesukuan Sikumbang

Saat kecil Rohana Kudus tidak mendapatkan pendidikan seperti kaum laki-laki, Rohana Kudus, namun sejak kecil Rohana sudah diajarkan ayahnhya membaca huruf latin dan Arab-Melayu saat itu masih berusia lima tahun.

Kehidupanya berpindah-pindah karena mengikuti sang ayah yang dipindahkan ke berbagai daerah, pada saat usia 6 tahun ayahnya dipindahkan ke Alahan Panjang disana bertemu dengan keluarga Lebai Rajo Nan Sutan yang merupakan Jaksa Alahan Panjang yang juga berasal dari Koto Gadang dan istrinya Aidiesa, pasangan ini tidak memiliki anak sehingga mereka menjadikan Rohana menjadi anak angkatnya

Dari Aidiesa ibu angkat Rohana bisa membaca dan menulis, biasanya dia belajar pada siang hari baru malam hari dia kembali kerumah orang tuanya. Ditempat orang tua angkatnya Rohana juga bebas membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berita politik, gaya hidup, serta pendidikan di Eropa.

Di usianya yang ke 24, Rohana kembali ke Koto Gadang dan menikah dengan Abdul Kudus. Pernikahan tak membuat semangat belajarnya meredup. Pada tanggal 11 Februari 1911 dan pada 1915 resmi berdiri Yayasan Kerajinan Amai Setia. Rohana mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia.

Sebuah sekolah khusus perempuan yang berfokus pada keterampilan. Namun, walau berfokus pada keterampilan, Rohana juga mengajarkan berbagai pelajaran umum, seperti pendidikan baca-tulis, agama, budi pekerti, keuangan, dan juga bahasa Belanda

Dulu di Koto Gadang Rohana Kudus bersama Rakina Putih mengajak ibu-ibu jaman dulu dimana pada saat itu ibu-ibu itu tidak boleh keluar rumah tidak boleh kerja diluar, mula-mula diajar tulis baca, habis itu lama-lama diajak menyulam, jadi ibu-ibu sini senang semua jadi anggota Amai Setia hampir semua di kampung ini jadi anggota mereka belajar menyulam, merenda dan menenun

Perjuangan Rohana dalam memajukan kaum perempuan di Sumatera Barat bukanlah hal yang mudah. Berbagai penentangan didapat dari pemuka adat dan masyarakat lelaki Minangkabau. Mereka beranggapan, untuk apa perempuan harus setara laki-laki.

Source: Berbagai sumber

GEREJA TUGU DI KAMPUNG TUGU JAKARTA UTARA


Gereja Tugu  berada di Kampung Tugu, Jakarta Utara.

Gereja Tugu adalah salah satu gereja tertua di Indonesia yang terletak di Kampung Tugu, Jakarta Utara. Secara pasti tidak diketahui kapan mulai dibangun, tetapi para ahli sejarah menyimpulkan sekitar tahun 1676-1678 oleh Melchior Leydecker, bersamaan dengan dibukanya sebuah sekolah rakyat pertama di Indonesia.

Pada tahun 1737 dilakukan renovasi pertama dibawah pimpinan pendeta Van De Tydt, dibantu oleh seorang pendeta keturunan  Portugis kelahiran Lisabon yaitu Ferreira d'Almeida dan orang-orang Mardijkers.

Tahun 1740 bersamaan dengan terjadinya Pemberontakan Tionghoa (Cina Onlusten) dan pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia, yang terjadi pada masa Gubernur Jendral Adriaan Valckenier yang berkuasa di Batavia pada tahun 1737-1741, Gereja Tugu hancur.

Kemudian pada tahun 1744 atas bantuan seorang tuan tanah Yustinus Vinck gereja ini dibangun kembali, dan baru selesai pada 29 Juli 1747 yang kemudian diresmikan pada tanggal 27 Juli 1748 oleh pendeta J.M. Mohr.

1748 - 2019, 271 tahun...

TJILIK RIWUT


Tjilik Riwut, sang legenda Kalimantan Tengah.
.
Lahir di Kasongan, Kalimantan Tengah, pada 2 Februari 1918.
Wafat di Banjarmasin 17 Agustus 1987 (umur 69). 32 tahun yang lalu.

Ia Bupati Kotawaringin Timur tahun 1955. Selaku bupati Kotawaringin, ia mengirim telegram ke pemerintah pusat perihal keinginan orang Dayak membentuk provinsi sendiri, pada Oktober 1956.
1957 Tjilik Riwut dipercaya menjadi Gubernur Kalimantan Tengah selama 9 Tahun (1957-1966).

Pembangunan Palangka Raya sebagai ibu kota Kalimantan Tengah. dibangun di atas hutan yang bersisian dengan kampung Pahandut, desa berpenduduk sekitar 900 jiwa di tepi Sungai Kahayan.
.
1998 ia di angkat sebagai pahlawan nasional. Bukan tanpa alasan, Tjilik Riwut tergabung dalam pasukan MN 1001, pada Oktober 1945.
Ia ditunjuk memimpin Pasukan Payung. Waktu itu Kalimantan terisolasi dan dijaga ketat Belanda. Ia memberi usul untuk masuk lewat udara dengan terjun payung"

14 orang termasuk Tjilik Riwut adalah,
Kapten Hari Hadisoemantri (asal Semarang)
Letda Iskandar (Sampit)
Serma Kosasih (Barito)
Kapten FM Soejoto (Ponorogo)
Bachri (Barabai)
J Bitak (Kelapa Baru-Kalimantan)
C Willem (Kuala Kapuas)
Imanuel Nuhan (Kahayan Hulu)
Mika Amirudin (Kahayan Hulu)
Ali Akbar (Balikpapan)
Letda M Dachlan (Sampit)
JH Darius (Kasongan)
Marawi (Rantau Pulut).
.
Bermodalkan parasut bekas tentara Jepang dan tidak ada anggota Pasukan Payung yang pernah naik pesawat.
Mereka terjun ke Sambi, Kotawaringin, lantas menggalang warga setempat guna bergerilya.
Momen tersebut kelak diperingati sebagai hari lahir Pasukan Khusus TNI-AU.

Meski tak turut terjun, Tjilik Riwut berperan sebagai komandan dan penunjuk jalan dalam operasi yang melibatkan 14 orang itu.
.
Tjilik Riwut yang memimpin pemuda Dayak untuk bersumpah setia kepada Indonesia. Sumpah dilakukan tujuh pemuda Dayak di hadapan Presiden Sukarno, di Gedung Agung, Yogyakarta, pada 17 Desember 1946. Para pemuda itu jadi wakil 185.000 warga, yang mencakup 142 suku Dayak.

Thursday, November 28, 2019

RIWAYAT RUMAH TUA SUNGAI JINGAH


RIWAYAT RUMAH TUA SUNGAI JINGAH
(Kampung Tua Di Banjarmasin)

Nama Kampung Sungai Jingah berasal dari nama sungai kecil bernama Sungai Jingah. Dinamakan  Sungai Jingah dahulunya di sepanjang sungai kecil ini terdapat banyak pohon Jingah.

Pada kawasan ini dahulunya berdomisili beberapa saudagar kaya. Satu diantaranya Haji Abdul Ghani Kamar. Seorang saudagar,  pedagang antar pulau. Dari wilayah Banjarmasin Haji Abdul Ghani Kamar membawa komoditas tikar purun, hingga kue kering (wadai karing) untuk dijual kembali di wilayah Surabaya (Jawa Timur)

Sementara dari Jawa, beliau membawa banyak komoditas yang diperdagangkan berupa barang kelontong, garam, meubel, serta bahan pokok lainnya. Barang ini sangat dibutuhkan di Geemente (Kota) Banjarmasin.

Selain itu juga beliau membawa komoditas berupa tembakau dan Bawang dari Bima dan Surabaya. Pada masa keemasan usahanya Haji Abdul Ghani Kamar bahkan memiliki dua buah gudang di Kota Surabaya.

Sekitar tahun 1925, Haji Abdul Gani Kamar membangun rumah megah dan naik haji ke Mekkah bersama semua anak anaknya. Rumah yang dibangun beliau adalah rumah bertipe Bangun Gudang, yang masih berdiri megah sampai sekarang.

Kalau dihitung hingga tahun 2019, rumah ini berusia hampir satu abad atau sekitar 94 tahun. Data artefak yang mendukung bahwa rumah ini dibangun tahun 1925 adalah tulisan berhuruf Arab 1334 Hijriyah dan Anno 1925.

Rumah ini bercat warna krem dan sedikit perpaduan cat warna coklat tua itu, masih berdiri kokoh. Selain itu, rumah ini juga diberi sentuhan warna hijau pada bagian pintunya. Sejak awal rumah ini tidak mengalami banyak perubahan dengan tipe Bangun Gudang beserta bentuk dan warnanya.

TENTARA JERMAN DALAM PERANG KEMERDEKAAN INDONESIA


Tentara Jerman dalam Perang Kemerdekaan Indonesia

Terseret arus Perang Dunia II, tentara Jerman ini memutuskan ikut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.
 Awak Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine) dari Kapal Selam U-219. Beberapa anggotanya bergabung dengan gerilyawan republik Indonesia.

SELAMA penggojlokan di Sarangan, kadet Sayidiman Suryohadiprojo mengenal lelaki berkulit putih sebagai pelatih jasmani terbaik: disiplin dan ulet. Dengan gayanya, dia berhasil menjadikan anak-anak Akademi Militer Yogyakarta menguasai gerakan-gerakan senam yang sebelumnya hanya bisa dikuasi orang-orang Belanda. Adalah Her Hufper, seorang Jerman yang mengajar senam dan atletik bagi para kadet Akademi Militer Yogyakarta.

“Hufper bukan pelatih sembarangan, dia adalah pelatih senam tim Jepang dalam Olympiade tahun 1940 yang kemudian gagal diadakan,” ujar Sayidiman, terakhir pangkat Letnan Jenderal.

Menurut lulusan terbaik Akademi Militer Yogyakarta angkatan pertama tersebut, Hufper bukanlah satu-satunya orang Jerman yang terlibat dalam pendidikan calon-calon perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di Sarangan terdapat para instruktur Jerman yang mengajarkan bahasa asing (Jerman, Inggris, Prancis) dan keterampilan morse. Untuk materi yang terakhir ini, para kadet Akademi Militer Yogyakarta dididik secara khusus oleh bekas markonis Jerman yang memiliki kemampuan mengirimkan dan menangkap tanda morse dalam kecepatan tinggi.

Sejarawan militer Nino Oktorino menyebutkan bahwa sejak menginjakan kaki di tanah Nusantara pada awal-awal balatentara Jepang datang ke Jawa, sudah banyak perwira Jerman menyimpan simpati terhadap rakyat Indonesia. “Saat berkumpul, mereka kerap mendiskusikan tentang kemerdekaan Indonesia…” tulis Nino dalam Nazi di Indonesia, Sebuah Sejarah yang Terlupakan.

Soal ini juga diakui oleh sejarawan Jerman Herwig Zahorka. Dia bahkan menyebut, pasca berakhirnya Perang Dunia II, setidaknya ada dua prajurit Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine) dari Kapal Selam U-219 yang bergabung dengan gerilyawan Indonesia untuk memerangi militer Belanda. “Nama mereka adalah Warner dan Losche…” ungkap ahli sejarah militer Jerman di Indonesia tersebut. Lantas bagaimana nasib mereka berdua?
Zahorka hanya mengatakan bahwa begitu lolos dari kamp konsentrasi Sekutu di Pulau Onrust (masuk wilayah Kepulauan Seribu), Warner dan Losche menjadi pelatih militer pada sebuah kesatuan tentara Indonesia di pulau Jawa. “Salah seorang dari mereka yakni Losche malah gugur dalam suatu kecelakan saat melatih para gerilayawan republik membuat sejenis pelontar api,” kata Zahorka.

Menurut Nino, Warner dan Losche, serta satu Jerman lain yang tidak diketahui namanya, memang ditugaskan untuk melatih suatu kesatuan tentara Indonesia di perkebunan kopi di Ambarawa, Jawa Tengah.

Sumber NEFIS (Dinas Intelijen Militer Belanda) membenarkan adanya puluhan orang Jerman yang memihak Indonesia dalam perang kemerdekaan (1945-1949). Hal ini diungkapkan oleh Jenderal Simon Hendrik Spoor dalam biografinya, Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia, karya sejarawan militer Belanda J.A. de Moor.

Spoor menceritakan adanya orang-orang Jerman dalam suatu pertempuran: “…Sepuluhan orang Jerman katanya memperdengarkan diri dengan keras dan jelas di dalam semak, tanpa pernah secara fisik menampakan diri.”

Oleh Hendi Jo

🇮🇩 JASMERAH

PONDASI CEKER AYAM


Pondasi Ceker Ayam

Nama Prof.Dr.Ir. Sedyatmo mungkin terdengar asing di telinga kita. Namun, taukah kamu kalau ternyata ia adalah salah satu orang yang berpengaruh di dunia pembangunan? Salah satu hasil pemikiran kecerdasannya sudah diakui dunia dari karya teknologi pemasangan pondasi yang kokoh di atas tanah labil. Gagasan ini banyak diterapkan di berbagai bangunan di seluruh dunia.

Prof.Dr.Ir. Sedyatmo adalah Putra kebanggaan Karanganyar, Jawa Tengah. Sejarah awal mula munculnya gagasan “Pondasi Ceker Ayam” ini adalah saat ia memegang tanggung jawab untuk membangun menara listrik bertegangan tinggi di daerah rawa-rawa di kawasan Yogyakarta dengan persoalan struktur tanah yang lembek dan tidak stabil. Hingga munculah gagasan mendirikan menara di atas pondasi plat beton dengan ditopang oleh pipa-pipa beton di bawahnya.

Pipa atau pelat beton ini kemudian bersatu dan mencekeram tanah yang lembek dengan sangat kuat sehingga menjadi pondasi dasar menara yang kokoh. Sejak saat itulah nama “Pondasi Cakar Ayam” muncul. Sekarang ini, metode ini diterapkan di beberapa daerah di tanah air, seperti pembangunan landasan pacu Bandara Internasional Soekarno Hatta dan ratusan bangunan lainnya di dunia.

Gagasan “Pondasi Cakar Ayam” hasil kerja keras Professor Sedyatmo tersebut juga mendapat pengakuan paten dari beberapa negara di dunia.

🇮🇩 JASMERAH